Mengungkap Rencana Stablecoin Yuan China
Mengungkap Rencana Stablecoin Yuan China : Stablecoin Yuan China Akan Saingi Dolar
Dunia kripto kembali ramai dengan spekulasi setelah muncul kabar bahwa Tiongkok mungkin akan meluncurkan stablecoin berbasis yuan. Namun, para ahli hukum dan analis menilai langkah ini tidak serta-merta menandakan adanya perubahan sikap Beijing terhadap aset kripto.
Isu Stablecoin Yuan dan Dua Pasar RMB
Laporan terbaru dari Reuters menyebutkan bahwa Beijing sedang mempertimbangkan stablecoin yang dipatok pada renminbi (RMB) sebagai bagian dari strategi internasionalisasi mata uangnya. Walaupun demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari otoritas China.
Jika pun stablecoin ini jadi diluncurkan, besar kemungkinan peredarannya akan dilakukan di luar daratan Tiongkok. Hal ini berkaitan dengan struktur unik mata uang China yang terbagi menjadi dua pasar: CNY (onshore yuan) yang hanya berlaku di dalam negeri dengan kontrol ketat, serta CNH (offshore yuan) yang diperdagangkan di luar negeri, khususnya di Hong Kong.
Mengapa Stablecoin CNY Hampir Mustahil
Stablecoin berbasis CNY dinilai sulit terealisasi karena akan bertabrakan dengan kebijakan kontrol modal yang sangat ketat di dalam negeri. Beijing selama ini sudah mendorong penggunaan e-CNY, yaitu yuan digital yang dikembangkan langsung oleh bank sentral sebagai bagian dari proyek mata uang digital resmi (CBDC).
Dengan posisi tersebut, setiap uji coba stablecoin di daratan China kemungkinan besar akan diintegrasikan dengan e-CNY, bukan berdiri sebagai aset terpisah.
Hong Kong Jadi Pusat Uji Coba
Sejak 2010, Hong Kong telah berperan sebagai pusat pasar CNH. Kota ini menjadi tempat berkembangnya obligasi “dim sum” berbasis yuan offshore dan kini juga menyediakan kerangka hukum untuk perdagangan kripto.
Pada Agustus 2024, aturan stablecoin baru mulai berlaku di Hong Kong. Aturan ini mewajibkan penerbit stablecoin untuk mendapatkan lisensi, sebuah langkah yang dipandang sebagai peluang uji coba bagi stablecoin berbasis yuan.
Para analis meyakini, jika China benar-benar ingin menguji stablecoin, Hong Kong akan menjadi tempat utama karena posisinya sebagai jembatan antara pasar global dan kebijakan domestik Beijing.
Tantangan Dominasi Dolar
Saat ini, sekitar 98% pasar stablecoin masih dikuasai oleh token berbasis dolar AS seperti USDT dan USDC. Akademisi China menilai dominasi ini berpotensi melemahkan kedaulatan finansial yuan. Dengan demikian, stablecoin berbasis CNH dapat dipandang sebagai upaya strategis Beijing untuk menghadirkan alternatif terhadap dominasi dolar di dunia kripto.
Namun, ada kendala besar. Pasokan CNH di luar negeri masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total suplai uang di daratan China. Data otoritas Hong Kong menunjukkan, hingga Juni 2024, simpanan CNH hanya sekitar 0,27% dari total suplai uang di Tiongkok.
Kesimpulan
Stablecoin berbasis yuan memang menarik perhatian pasar, tetapi jangan berharap stablecoin ini bisa digunakan langsung di daratan China. Dengan kontrol ketat terhadap arus modal dan fokus besar pada pengembangan e-CNY, langkah Beijing kemungkinan hanya sebatas pengujian di wilayah offshore seperti Hong Kong.
Artinya, tujuan utama stablecoin ini bukanlah untuk mengejar adopsi ritel, melainkan untuk memperluas ruang strategis yuan dalam ekosistem keuangan digital global.